Pengisi: Bapak Samino Setiawan
Materi: TAZKIYYATUN NAFS
Isi Kajian:
Pengantar
Kata Tazkiyyatun berasal dari kata
Zalika -> Yuzakki -> Tazkiyyatun yang artinya menumbuhkan, memperbaiki, menambahkan, membersihkan, menyucikan, atau menjadikan lebih baik.
Sedangkan An-Nafs berarti ruh, jiwa, atau nafas
TAZKIYYATUN NAFS diartikan sebagai Upaya Mensucikan Diri
Tazkiyyatun Nafs dilakukan dengan tujuan agar jiwa menjadi lebih baik.
Berdasarkan hadist, diterangkan bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging yang jika daging itu baik, maka baiklah orang tersebut, tetapi jika buruk daging itu, maka buruklah orang tersebut.
Segumpal daging tersebut adalah mudqoh yaitu hati.
Jadi, baik buruknya seseorang tersebut diawali dari niat dalam hatinya.
Jika kita perhatikan keadaan manusia di masa sekarang, banyak sekali orang yang berlomba-lomba untuk memperbaiki fisiknya, baik yang bertujuan untuk kesehatan maupun tampilan. Namun, mereka justru lupa untuk membersihkan jiwanya. Padahal, kesehatan fisik dan keindahan rupa sebenarnya berasal dari jiwa yang sehat. Jika jiwanya tidak sehat, maka tubuhnya pun menjadi mudah sakit dan wajahnya tidak bercahaya.
Oleh karena itulah, sebaiknya kita mengutamakan penyucian hati.
Petikan dari Al Baqarah ayat 22:
Innallaha yuhibbut tawwabinna wa yuhibbul muttathohirin
Allah menyukai orang-orang yang menyucikan jiwa dan menyucikan diri.
Kesucian jiwa lebih utama. Jadi, jagalah rohani barulah kita memperhatikan jasmani.
Hati manusia ibarat kaca. Jika banyak kotoran yang menempel, maka cahaya yang masuk akan menjadi redup.
Jagalah selalu hati kita agar senantiasa bersih dengan niat yang ikhlas. Semua yang dikerjakan akan memberikan hasil yang baik jika niatnya ikhlas. Namun, jika tidak ikhlas, maka amalannya menjadi sia-sia.
Tahapan Tazkiyyatun Nafs
I. Tahapan Tazkiyyatun Nafs yang pertama adalah At-Tathohharu
At-Tathohharu artinya membersihkan atau menyucikan hati dari penyakit-penyakit jiwa.
Caranya adalah dengan melakukan Taubatan Nasuhah yaitu menyesali perbuatan-perbuatan maksiat dan sia-sia, kemudian berusaha keras untuk tidak mengulanginya kembali.
Untuk ini diperlukan kesabaran. Tingkatan kesabaran terendah adalah sabar saat ditimpa musibah, sedangkan tingkatan sabar paling tinggi adalah sabar untuk tidak melakukan perbuatan maksiat.
Kenapa sabar saat ditimpa musibah berada pada tingkat terendah? Karena sudah sewajarnya kalau tertimpa musibah ya harus sabar.
Untuk bisa melakukan At-Tathohharu secara baik, kita harus mengetahui apa saja penyakit hati/jiwa, yaitu yang disebutkan berikut ini,
- Kufur
Kufur adalah ingkar terhadap Allah
Orang yang kufur tidak mengakui kekuasaan Allah, termasuk mengingkari rezeki yang telah diberikan Allah padanya.
Salah satu penggambaran orang yang ingkar adalah ketika ditimpa musibah, maka dia memohon pada Allah untuk dihilangkan musibahnya tersebut. Tapi, setelah dihilangkan musibahnya, maka dia lupa. Dia kembali menjadi ingkar.
Berhati-hatilah saat ditimpa musibah. Memang ada beberapa musibah yang diturunkan pada manusia untuk menaikkan derajatnya, seperti saat diberi sakit. Namun, jangan sampai merasa bangga bahwa Tuhan telah menaikkan derajat diri kita, lalu menjadi lupa pada Allah. Bisa jadi, musibah itu adalah tanda atau peringatan bahwa kita sudah menyimpang.
Apapun yang terjadi, kita sebagai manusia harus tetap ingat pada Allah SWT.
- Syirik dan riya
Syirik adalah menyekutukan Allah dengan yang lain.
Syirik bukan hanya menyekutukan Allah dengan berhala atau manusia, tetapi saat kita merasa takut akan masa depan, maka itu menjadi bagian dari syirik karena kita tidak percaya pada rizki yang telah disediakan oleh Allah.
Contoh takut akan masa depan adalah seorang penjual yang merasa takut jika pelanggan tidak lagi memesan barang dagangannya karena ada saingan baru.
Riya adalah pamer.
Riya diibaratkan sebagai semut hitam diatas batu hitam di tengah hutan belantara di malam hari yang gelap.
Riya adalah penyakit hati yang jarang disadari tetapi paling sering dilakukan.
Contohnya adalah selalu berusaha untuk mendapatkan pujian dan merasa bangga jika dipuji.
Padahal, sebuah pujian pada hakekatnya adalah untuk Allah. Karena apapun yang terjadi pada manusia semua bersumber dari Allah. Fisik yang cantik diberikan oleh Allah, begitupula harta, kepintaran, dan segala sesuatunya berasal dari Allah.
Kalimat-kalimat seperti: “Iya dong, siapa dulu orangnya” atau “Aku gitu loh” hal itu sudah termasuk riya.
Bahkan kalimat seperti, “Alhamdulillah, rejeki anak sholeh” juga bisa menjadi riya kalau diucapkan untuk diri sendiri karena kalimat “rejeki anak sholeh” yang merujuk pada diri sendiri bersifat pamer jika dirinya sholeh, padahal belum tentu juga kalau dia benar-benar sholih.
Karena berbahayanya riya, banyak ulama yang mengatakan bahwa riya adalah syirik kecil yang bisa menahan amalan.
Karena itulah, saat dipuji, bersyukurlah pada Allah dan kembalikan pujian tersebut pada Allah. Ucapkanlah “Alhamdulillah. Barokallah” (Segala puji bagi Allah. Semoga diberkahi Allah).
- Wahn
Wahn artinya cinta dunia dan takut mati.
Cinta dunia dan takut mati sebenarnya manusiawi dan wajar. Namun, yang diartikan sebagai wahn adalah cinta dunia yang teramat sangat hingga melupakan Allah dan takut mati karena belum mendapatkan keinginan yang bersifat duniawi.
Contoh wahn adalah hidup yang bermewah-mewah dan takut mati karena belum mendapatkan harta yang cukup atau takut mati karena belum mencapai pangkat yang inginkan.
Dalam Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 14 disebutkan bahwa:
Dijadikan indah pada pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak,dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik.
Manusia boleh mengejar dunia, tetapi semata-mata sebagai sarana untuk beribadah pada Allah SWT.
Jika memiliki harta, jangan lupa untuk mengeluarkan kewajiban membayar zakat.
Penyakit wahn ini sangat berbahaya, bahkan ada hadist yang menyebutkan bahwa akan ada suatu masa saat umat Islam seperti buih di lautan. Hadist ini menggambarkan bahwa jumlah orang Islam banyak, tetapi jiwanya telah diambil karena memiliki penyakit wahn sehingga terombang-ambinglah jiwanya, tidak tentu arah.
Kita harus takut mati yang takut matinya karena Allah, takut karena amalan belum cukup sedangkan dosa menumpuk. Kita harus selalu takut mati agar meningkatkan ibadah dan menghindarkan maksiat.
- Hasad
Hasad artinya dengki.
Iri saat orang lain mendapatkan rejeki, tapi senang saat melihat orang lain susah.
Hasad diibaratkan seperti api yang membakar kayu. Semakin lama kayu akan habis terbakar. Begitulah hasad yang jika terjadi terus menerus akan menghapus amalan sehingga lama kelamaan amalan tersebut habis dan tidak bernilai disisi Allah.
- Ujub
Ujub adalah rasa kagum terhadap diri sendiri
Ujub bisa berupa kekaguman terhadap fisik diri, ilmu yang dimiliki,kelakuan, sifat, termasuk ibadah yang dilakukan.
Ujub seringkali tidak disadari atau tidak tahu bahwa apa yang dilakukan termasuk ujub. Contohnya, narsis adalah bagian dari ujub. Bahkan kebiasaan selfie bisa memunculkan ujub karena saat melihat hasil foto, maka bisa muncul kekaguman terhadap paras wajahnya sendiri. Apalagi kalau foto tersebut diunggah dan dipamerkan kepada orang lain.
Jika ujub terjadi secara terus menerus, maka rasa tersebut bisa menumbuhkan penyakit hati yang ke-6.
- Takabur
Takabur adalah sombong.
Merasa dirinya hebat sehingga mengingkari Allah dan rasul-Nya (dengan tidak mengikuti perintah Allah dan rasul), dan merendahkan orang lain.
- Itiba’ul hawa
Itiba’ul hawa adalah mengikuti hawa nafsu.
Seluruh perbuatannya didorong oleh hawa nafsu.
Untuk menghindarinya, maka segala sesuatu yang dilakukan, sekecil apapun masalahnya harus dilandasi Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
Itulah 7 Penyakit Hati/Jiwa yang harus kita ketahui dan sadari.
Kita harus senantiasa membersihkan hati dari 7 penyakit hati yang sudah disebutkan tadi. Saat menyadari bahwa ada penyakit hati dalam diri, segeralah bertaubat
II. Tahapan Tazkiyyatun Nafs yang kedua adalah At-Takhalluq
Setelah membersihkan hati lanjutkan dengan At-Takhalluq yaitu mengisi hati dengan akhlaqul karimah atau sifat-sifat yang baik.
Caranya adalah dengan memasukkan sikap sabar, berhuznudzon, tawadu, jujur, amanah, qona’ah, dan sifat-sifat baik lainnya.
Selalu berbuat baik dan janganlah berburuk sangka. Apa-apa yang terjadi semata-mata datangnya dari Allah, dan Allah selalu memberikan yang terbaik bagi manusia.
III. Tahapan Tazkiyyatun Nafs yang ketiga adalah Al-Iqtida
Setelah hati dibersihkan dan diisi sifat baik, lanjutkan dengan Al-Iqtida yaitu meneladani perilaku yang bersumber dari Asma’ul Husna dan memasukkan sifat-sifat akhlaq nabi ke dalam jiwa.
Berusahalah untuk mencontoh segala kebaikan Allah dan Rasulnya.
Begitulah teori dari Usaha Penyucian Diri. Lalu bagaimana langkah-langkah konkrit yang bisa dilakukan? Silahkan lanjutkan membacanya.
Jalan membersihkan jiwa yang bisa kita lakukan dalam keseharian:
- Sholat
- Zakat, infak, sodaqoh
- Puasa
- Haji bagi yang mampu
- Tilawah Al Qur’an
- Zikir
- Tafakur
- Ingat mati
- Pendek angan-angan
- Muroqobah, muhasabah, mujahadah, muaqobah
Muroqobah = selalu merasa diawasi oleh Allah agar takut sehingga tidak mudah terbuai oleh godaan setan, karena memang Allah selalu mengawasi hamba-hambanya.
Muhasabah = introspeksi diri
Mujahadah =berjuang untuk meraih tujuan dengan cara yang baik.
Mu’aqobah = memberi sanksi pada diri sendiri saat melakukan kesalahan. Tetapi, sanksinya bukan dengan menyakiti diri sendiri. Bisa dengan menambah amalan, dll.
- Tawadu service (pelayanan yang rendah hati)
Pelayanan dengan rendah hati harus dilakukan pada semua orang, baik itu anggota keluarga, kerabat, sahabat, teman, tetangga, pelanggan, dan semuanya.
Jadi harus selalu bersikap baik dan rendah hati pada semua orang, apapun hubungannya dengan diri kita, pangkatnya, dan status sosialnya.
- Mengetahui pintu-pintu masuk setan ke dalam jiwa dan mencegah masuknya setan.
Setan bisa masuk dari berbagai pintu, bahkan dari celah-celah amalan baik kita. Saat kita melakukan amal baik, justru setan bisa saja menyerang dari arah tersebut. Misalnya membuat kita menjadi ragu dan malas.
- Mengetahui berbagai jenis penyakit hati dan cara membersihkannya.
Tambahan hasil tanya jawab (PENTING nih buat kaum perempuan!!!)
Baper dan galau juga masuk dalam penyakit hati, karena bisa menjadikan kita lupa/ingkar pada Allah yang artinya kufur.
Karena terlalu terbawa perasaan dan galau, akhirnya masalahnya dipikirin terus sampai akhirnya lupa kalau seharusnya semua masalah itu dimohonkan petunjuk dari Allah dan dicari solusinya sesuai Al Qur’an dan hadist.
Jadi kalau ada masalah sebaiknya dibuat santai. Yang terpenting adalah selalu memohon petunjuk dari Allah tentang jalan keluar yang terbaik sambil terus mencari langkah-langkah penyelesaian berdasarkan dalil-dalil yang benar.
Dalam menghadapi orang lain, kita harus selalu sabar sambil melihat situasi dan kondisi. Jangan terburu-buru tidak suka atau marah. Jika ada suatu berita atau ada suatu keadaan yang membingungkan dengan orang lain, lakukanlah tabayun atau mencari penjelasan dan pemahaman agar tidak terjadi perselisihan paham yang berkepanjangan. Temui orang tersebut dengan baik-baik dan selesaikan masalahnya.
Kalau terjadi perselisihan paham dengan orang lain yang menggunakan dalil-dalil Al Qur’an atau hadist yang kita tidak tahu atau kita tidak yakini kebenarannya, maka terimalah dahulu informasi dari orang tersebut dan jangan dilawan tanpa dasar. Misalnya kita bisa berkata, “Oh begitu, kalau begitu nanti saya coba cari ilmunya dulu ya.”
Lalu, carilah ilmu tentang dalil tersebut baik dengan membaca dari berbagai sumber terpercaya atau bertanya pada orang yang memiliki ilmu lebih tinggi dan bisa dipercaya, seperti ustadz/ustadzah.
Jika dalil yang digunakan berbeda dengan yang kita yakini, carilah dalil lain yang bisa memberi keterangan dan kekuatan sampai akhirnya bisa didapatkan kebenarannya.
Jika masing-masing tetap berpegang kuat pada dalil-dalil yang diyakini, maka bersabarlah. Jadikan hal tersebut sebagai pengetahuan dan pengalaman. Jangan meneruskan perdebatan yang sia-sia.
Bagi orang-orang yang mendengar suatu berita atau dimintai suatu nasehat, janganlah asal komentar. Jika tidak paham lebih baik diam. Janganlah lupa untuk selalu melihat situasi dan kondisi.
